Kemana Prabowo Saat Titiek Menangis Penuh Duka?

Minggu, 23 September 2018


Tanyakan kepada Prabowo : Kemana dia saat Titiek menangis penuh duka.

Sesungguhnya tidak ada yang diharapkan seorang wanita pada calon suaminya, kecuali seorang pria yang dapat menjaga, melindungi dan selalu mendampinginya setiap saat. Bukanlah seorang suami yang kerap berjibaku dengan lumpur, hutan, rawa-rawa, apalagi bermain dengan kematian dan nyawa.

Yang dinikahi Prabowo Subianto adalah Siti Hediati Hariyadi, putri kesayangan Soeharto. Seorang dara keturunan kraton yang selalu berbicara lembut dan jauh dari kehidupan keras dan kasar. Namun saat cinta datang, Titiek tak bisa mengelak memilih suami seorang prajurit ABRI. Taman Mini Indonesia Indah menjadi saksi, bersatunya dua keluarga, Soeharto dan Soemitro ini. Lalu kemudian, Titiek pun mulai merajut asa rumah tangganya dengan angan indah dan bahagia hingga akhir hayat nanti.

Saat itu, kewibawaan negeri tengah dirongrong pihak asing. Saat Portugal dan Australia menginginkan kemerdekaan Timor Timur. Mereka ciptakan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) dari warga lokal untuk melakukan pemberontakan. Aksi GPK jelas mengancam stabilitas nasional. Mereka bergerilya di hutan-hutan untuk menyerang ABRI dengan senjata otomatis. Puluhan tentara RI meregang nyawa dengan tubuh penuh luka peluru. Pemerintah tak bisa tinggal diam. Telalu banyak pasukan keamanan RI yang telah mereka bunuh. Prajurit ABRI pun diterjunkan pemerintah untuk mempertahankan teritorial tumpah darah ibu pertiwi.

Namun sayangnya, Soeharto tak tebang pilih saat mengirim prajurit untuk berperang. Suami putrinya yang belum menghabiskan masa bulan madu turut diterjunkan ke medan tempur. Sebagai prajurit, Prabowo siap kapan pun dipanggil tugas mengabdi pada negara. Tapi tidak dengan Titiek. Namun Titiek harus pasrah. Ini bukan pilihan, tapi perintah! Saat Prabowo akhirnya angkat tas, tinggalkan istri yang baru saja ia nikahi untuk berjuang, Titiek menangis, tak menyangka ayahnya begitu tega melepas menantunya mengadu jiwa dengan GPK. Kenapa bukan yang lain saja? Itu yang ada di benak Titiek.

Seorang prajurit seperti yang sering Titiek dengar dari ayah kandungnya adalah, siap membela negara, siap hidup di alam liar, siap mengadu jiwa, dan siap pulang hanya tinggal nama. Titiek sangat mengerti, dan itu yang membuatnya menangis. Namun air mata Titiek tak dapat mengubah keputusan ayahnya, tak dapat mengubah tekad Prabowo, dan tak dapat mengubah apapun.

Beratus malam putri Soeharto tidur dalam kesendirian dan kekuatiran yang mendalam. Di dalam kamar nyaman yang tak pernah terasa nyaman, karena bulir-bulir air mata Titiek kembali meleleh dan membasahi bantal dan guling. Malam-malamnya ia lalui di atas pembaringan yang empuk, gizi makanan yang terjamin, pakaian yang elok, tapi yang ada di pikirannya adalah, apa yang sedang terjadi pada suaminya di luar sana? Adakah ia terluka? Ataukah ia dalam keadaan sehat? Di tengah malam pekat gulita, di antara dinginnya cuaca, dengan perihnya perut karena lapar, Prabowo dengan kondisinya yang letih dan sangat lelah harus tidur di atas rerumputan dan bahkan di tanah lumpur alam terbuka.

Titiek merasa ia telah diperlakukan tidak adil oleh ayahnya. Lebih dari itu, Titiek bahkan merasa ia sedang dipelakukan tidak adil oleh negaranya. Kenapa rumah tangganya yang harus dikorbankan untuk bangsa? Kenapa kebahagiaannya yang harus digadaikan untuk negara? Tidak bisakah seorang Soeharto menukar Prabowo dengan prajurit lain, atau setidaknya memerintahkan suaminya pulang ke rumah barang sejenak. “Titek rindu..., Titiek kangen suami Bapak...,” tangis Titiek di depan Soeharto kala itu. Namun ayahnya, dari dulu, selalu hanya bisa menjawab, “Sabar nduk..., sabar..., ”.

Ketidakadilan dirasa Titiek tidak hanya sampai disitu, hatinya sedih dan berkecamuk, ia ingin bertanya kepada siapa saja yang bisa menjawab, ke mana suaminya saat ia ingin berkeluh kesah? Ke mana suaminya saat ia ingin bermanja? ke mana suaminya saat dirinya tergolek sakit? Ke mana suaminya saat ia mulai merasakan kehamilan? Di mana suaminya saat ia mengidam? Di mana Prabowo saat perutnya kerap mengalami kontraksi? Di mana putra Soemitro itu kala dirinya mulai memasuki masa melahirkan? Dan di mana pria yang selalu mengaku cinta kepadanya itu saat ia harus merawat dan mengasuh putranya sendirian? Tanyakan pada Didit kecil yang selalu menunggu ayahnya pulang di depan pintu. Tanyakan pada Titiek seperti apa rasa deg-degan hati ketika suaminya selalu berada di garis depan pada setiap pertempuran. Tanyakan juga pada Titiek seberapa tegar dirinya saat mendengar suaminya sempat berhari-hari hilang di tengah pertempuran, dan saat Prabowo ditemukan dalam kondisi pingsan dengan tubuh dipenuhi semut dan ulat. Prabowo selamat setelah nyaris saja tewas.

Titiek sulit menjalani kehidupan normal seperti saudari-saudarinya yang lain. Ayah dan ibunya mencoba menghiburnya seraya mengajarkan, bahwa cinta tak selamanya harus di sisi. Cinta tak selamanya selalu mendampingi. Cinta adalah mengabdi pada negeri. Bahwa cinta adalah pengabdian, dan cinta adalah pengorbanan meski harus beresiko tinggi dan menyakitkan hati. Titiek mencoba untuk belajar mengerti apa yang disebut dengan kalimat ‘mengabdi pada ibu pertiwi’.

Kisah keluarga yang tak memperoleh kasih sayang sempurna dari seorang suami dan ayah, hanya karena membela ideologi bangsa. Kisah suami dan ayah yang lebih memilih tidur di hutan, makan rerumputan dan dedaunan, meminum air mentah, dan lebih memilih tertembak mati di medan tempur dari pada sekedar membelai rambut anak dan istrinya dengan kasih dan cinta

Saat meledak peristiwa Mei 1998, Letjen (Purn) Prabowo Subianto tiba-tiba dipersalahkan atas kasus yang tidak pernah ia lakukan. Prabowo Subianto dituduh melakukan serangkaian pelanggaran HAM.

Diantara heningnya malam, di sela-sela renungan, kepada sang Pencipta, Prabowo tiba-tiba dikejutkan oleh kabar dari putra mahkota Yordania, Pangeran Abdullah, yang mengajaknya tinggal di negaranya. Prabowo pun kembali harus berpisah dari istri dan anaknya. Dan ini sebuah hal yang harus mereka lalui. Sebuah proses kehidupan yang tak ada satupun orang mengetahuinya kecuali Tuhan.

Di bahu kekar Prabowo Titiek terisak, di dada Jenderal Prabowo Titiek menangis. Kisah cinta sangat menyakitkan. Tapi inilah pengorbanan yang harus dipersembahkan untuk ibu pertiwi. Bahwa butuh lebih dari sekedar cinta untuk berkorban pada bangsa dan negara.

Sumber: From FP Facebook Kata Prabowo
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ekspresi Bebas Arowan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger