Diberdayakan oleh Blogger.

Polisi Merespon Cepat Kasus Habib Rizieq Atas Kasus Penghinaan Pancasila, Sedangkan Untuk Ahok Yang Sudah Jelas Hina Al Quran Belum Ada Respon

Kamis, 27 Oktober 2016


Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim)  Komjen Ari Dono Sukmanto memastikan akan memproses kasus penghinaan Pancasila dan Sukarno yang melibatkan oleh Ketua FPI Habib Rizieq.

"Secara normatif tentu kita terima laporan itu. Lalu kita proses. Tahapannya, videonya itu didapat pelapor dari mana? Jika dari YouTube nanti pemilik akun YouTube itu akan kita periksa. Apa motivasinya meng-upload (unggah) video itu," ujar Ari seperti dilansir beritasatu, Kamis (27/10/2016) malam.

Ari melanjutkan, tentu polisi akan memastikan keaslian video tersebut dengan cara memeriksa saksi ahli dan melakukan uji digital forensik. Polisi juga memastikan ada tidaknya pidana dalam kasus ini dan kelak akan memeriksa Rizieq.

"Tentu kita akan periksa, kita akan tanya, "Habieb maksud kalimatnya itu apa" dan seterusnya. Jadi kita akan profesional saja dalam menangani kasus ini. Tidak boleh berat sebelah," lanjut Ari.

Seperti diberitakan sebelumnya adik kandung Megawati Sukmawati Soekarnoputri menganggap pernyataan Habib Rizieq telah melecehkan Pancasila saat tabligh akbar Front Pembela Islam (FPI) 2 tahun di Jawa Barat.

PENGALIHAN ISU

Ketua DPP Front Pembela Islam, H Munarman SH, mengungkapkan, upaya mempidanakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, oleh Sukmawati Soekarno Putri, adalah upaya bodoh pengalihan isu.

Menurut Munarman, pelaporan yang dilakukan Sukmawati tak bisa memenuhi unsur pidana. Sebab pasal-pasal yang dilaporkan tak sesuai dengan peristiwa yang terjadi.

“Secara teknis hukum itu laporan tidak bisa memuhi unsur pidana. Karena pasal-pasal yang dijadikan laporan itu tidak sesuai untuk peristiwa yang dilaporkan. Saya sarankan yang melaporkan belajar hukum lagi yang benar,” kata Munarman kepada Panjimas.com, Kamis (27/10/2016).

Ia pun melihat pelaporan tersebut sebagai upaya pengalihan isu dan pesanan dari kelompok anti Islam.

“Secara politik saya melihat laporan ini sebagai upaya pengalihan isu, dari issue penistaan Al-Qur’an ke isu pesanan dari kelompok anti Islam,” ujarnya.

Namun sia-sia, cara-cara licik yang dilakukan tersebut terbilang bodoh, tak lebih dari sekedar jebakan monyet.

“Ini upaya licik untuk membenturkan Umat Islam dengan negara, cuma sayangnya yang merancang ini pengalihan isu ini bodoh. Umat Islam tahu lah ini jebakan monyet, kita lebih pinterlah dari gerombolan pelapor dan designernya,” tandasnya.

Untuk diketahui, sebagaimana tersebar di media, Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme, Sukmawati Soekarnoputri melaporkan Habib Rizieq ke Bareskrim Polri karena dianggap telah melecehkan lambang negara dalam sebuah video.

Padahal menurut penelusuan, video tersebut sudah diunggah sejak dua tahun yang lalu di sebuah akun Youtube. Namun Sukmawati mengatakan, baru menerima video tersebut pada bulan Juni 2016.

AKIBAT MENGAMBIL UANG IBU RP 150 (Kisah Motivator Jamil Azzaini)

Kamis, 20 Oktober 2016


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Ada satu kisah nyata yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer Kubik Leadership yang bernama Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe A Bekasi sekitar akhir tahun 2005. Dalam berceramah agama, beliau menceritakan satu kisah dengan sangat APIK dan membuat air mata pendengar berurai. Berikut ini adalah kisahnya:
Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak bisa tidur. Saya sudah berusaha membantu agar istri saya bisa tidur, dengan membelai, diusap-usap, masih susah tidur juga. Sungguh cobaan yang sangat berat. Akhirnya saya membawa istri saya ke RS Citra Insani yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Sudah 3 hari diperiksa tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya.
Kemudian saya pindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor. Selama berada di RS Azra, istri saya badannya panas dan selalu kehausan. Setelah dirawat 3 bulan di RS Azra, penyakit istri saya belum juga diketahui penyakitnya.
Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Mereka di Jakarta dan langsung di rawat di ruang ICU. Satu malam berada di ruang ICU pada waktu itu senilai Rp 2,5 juta. Badan istri saya –maaf- tidak memakai sehelai pakaian pun. Dengan ditutupi kain, badan istri saya penuh dengan kabel yang disambungkan ke monitor untuk mengetahui keadaan istri saya. Selama 3 minggu penyakit istri saya belum bisa teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.
Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang menangani istri saya menemui saya dan bertanya,
“Pak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk mengganti obat istri bapak.”
 “Dok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya, padahal setiap hari saya memang gonta-ganti mencari obat untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter minta izin ?”
 “Ini beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini nantinya disuntikkan ke istri bapak.”
 “Berapa harganya dok?”
 “Obat untuk satu kali suntik 12 juta pak.”
 “Satu hari berapa kali suntik dok?”
 “Sehari 3 kali suntik.”
 “Berarti sehari 36 juta dok?”
 “Iya pak Jamil.”
 “Dok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan saya sekarang hampir habis untuk menyembuhkan istri saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi. Tolong temukan penyakit istri saya dok.”
 “Pak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum menemukan penyakit istri bapak. Kami sudah mendatangkan perlengkapan dari RS Cipto dan banyak laboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan.”
 “Tolong dok…., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter yang memeriksa dan saya akan berdoa kepada Rabb saya. Tolong dok dicari”
 “Pak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami tidak juga menemukan penyakit istri bapak, maka dengan terpaksa kami akan mengganti obatnya.” Kemudian dokter memeriksa lagi.
 “Iya dok.”
Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua raka’at. Selesai shalat dhuha, saya berdoa dengan menengadahkan tangan memohon kepada Allah, -setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Rasululloh,
 “Ya Allah, ya Tuhanku….., gerangan maksiat apa yang aku lakukan. Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga engkau menguji aku dengan penyakit istriku yang tak kunjung sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah. Tunjukkanlah kepadaku ya Allah, gerangan energi negatif apakah yang aku lakukan sehingga istriku sakit tak kunjung sembuh ? sembuhkanlah istriku ya Allah. Bagimu amat mudah menyembuhkan penyakit istriku semudah Engkau mengatur Milyaran planet di muka bumi ini ya Allah.”
Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa yang pernah aku lakukan? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga aku diuji dengan penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya teringat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengambil uang ibu sebanyak Rp150,-.
Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan. Pada waktu itu SPP bulanannya adalah Rp 25,. Setiap pagi wali kelas memanggil dan menanyakan saya, “JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ?” Malu saya. Dan ketika waktu istrirahat saya pulang dari sekolah, saya menemukan ada uang Rp150, di bawah bantal ibu saya. Saya mengambilnya. Rp75,- untuk membayar SPP dan Rp75,- saya gunakan untuk jajan.
Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD dulu ketika saya mengambil uang ibu. Padahal saya hampir tidak lagi mengingatnya ??. Maka saya berkesimpulan mungkin ini petunjuk dari Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan istri saya sakit tak kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. Setelah itu saya menelpon ibu saya,
“Assalamu’alaikum Ma…”
“Wa’alaikumus salam Mil….” Jawab ibu saya.
“Bagaimana kabarnya Ma ?”
“Ibu baik-baik saja Mil.”
“Trus, bagaimana kabarnya anak-anak Ma ?”
“Mil, mama jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga anak-anakmu. Sudah kamu tidak usah memikirkan anak-anakmu, kamu cukup memikirkan istrimu saja. Bagaimana kabar istrimu Mil, bagaimana kabar Ria nak ?” –dengan suara terbata-bata dan menahan sesenggukan isak tangisnya-.
“Belum sembuh Ma.”
“Yang sabar ya Mil.”
Setelah lama berbincang sana-sini –dengan menyeka butiran air mata yang keluar-, saya bertanya, “Ma…, Mama masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ?”
“Yang mana Mil ?”
“Kejadian ketika Mama kehilangan uang Rp150,- yang tersimpan di bawah bantal ?”
Kemudian di balik ujung telephon yang nun jauh di sana, Mama berteriak, (ini yang membuat bulu roma saya merinding setiap kali mengingatnya)
“Mil, sampai Mama meninggal, Mama tidak akan melupakannya.” (suara mama semakin pilu dan menyayat hati),
“Gara-gara uang itu hilang, mama dicaci-maki di depan banyak orang. Gara-gara uang itu hilang mama dihina dan direndahkan di depan banyak orang. Pada waktu itu mama punya hutang sama orang kaya di kampung kita Mil. Uang itu sudah siap dan mama simpan di bawah bantal namun ketika mama pulang, uang itu sudah tidak ada. Mama memberanikan diri mendatangi orang kaya itu, dan memohon maaf karena uang yang sudah mama siapkan hilang.
Mendengar alasan mama, orang itu merendahkan mama Mil. Orang itu mencaci-maki mama Mil. Orang itu menghina mama Mil, padahal di situ banyak orang. …rasanya Mil. Mamamu direndahkan di depan banyak orang padahal bapakmu pada waktu itu guru ngaji di kampung kita Mil tetapi mama dihinakan di depan banyak orang. SAKIT…. SAKIT… SAKIT rasanya.”
Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan mendengar penderitaan dan sakit hati yang dialami mama pada waktu itu, saya bertanya, “Mama tahu siapa yang mengambil uang itu ?”
“Tidak tahu Mil…Mama tidak tahu.”
Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab dengan suara serak,
“Ma, yang mengambil uang itu saya Ma….., maka melalui telphon ini saya memohon keikhlasan Mama. Ma, tolong maafkan Jamil Ma…., Jamil berjanji nanti kalau bertemu sama Mama, Jamil akan sungkem sama mama. Maafkan saya Ma, maafkan saya….”
Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana, “Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim…..Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Maafkanlah dia ya Allah, ridhailah dia ya Rahman, ampunilah dia ya Allah.”
“Ma, benar mama sudah memaafkan saya ?”
“Mil, bukan kamu yang harus meminta maaf. Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu Mil karena terlalu lama mama memendam dendam ini. Mama tidak tahu kalau yang mengambil uang itu adalah kamu Mil.”
“Ma, tolong maafkan saya Ma. Maafkan saya Ma?”
“Mil, sudah lupakan semuanya. Semua kesalahanmu telah saya maafkan, termasuk mengambil uang itu.”
“Ma, tolong iringi dengan doa untuk istri saya Ma agar cepat sembuh.”
“Ya Allah, ya Tuhanku….pada hari ini aku telah memaafkan kesalahan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahannya yang lain. Ya Allah, sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku ya Allah.”
Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan terima kasih kepada mama. Dan itu selesai pada pukul 10.00 wib, dan pada pukul 11.45 wib seorang dokter mendatangi saya sembari berkata,
“Selamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah ketahuan.”
“Apa dok?”
“Infeksi prankreas.”
Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air mata kebahagiaan, “Terima kasih dokter, terima kasih dokter. Terima kasih, terima kasih dok.”
Selesai memeluk, dokter itu berkata, “Pak Jamil, kalau boleh jujur, sebenarnya pemeriksaan yang kami lakukan sama dengan sebelumnya. Namun pada hari ini terjadi keajaiban, istri bapak terkena infeksi prankreas. Dan kami meminta izin kepada pak Jamil untuk mengoperasi cesar istri bapak terlebih dahulu mengeluarkan janin yang sudah berusia 8 bulan. Setelah itu baru kita operasi agar lebih mudah.”
Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya selamat, saya kembali ke Bogor untuk sungkem kepada mama bersimpuh meminta maaf kepadanya, “Terima kasih Ma…., terima kasih Ma.”
Namun…., itulah hebatnya seorang ibu. Saya yang bersalah namun justru mama yang meminta maaf. “Bukan kamu yang harus meminta maaf Mil, Mama yang seharusnya minta maaf.”
Sahabat … Sungguh benar sabda Rasulullaah shalallaahu ’alaihi wa sallam :
“Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan doa orang yang teraniaya. Doa mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, ‘Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera.” (HR. Attirmidzi)
Kita dapat mengambil HIKMAH bahwa:
Bila kita seorang anak …
Janganlah sekali-kali membuat marah orang tua, karena murka mereka akan membuat murka Allah subhanahu wa ta’ala. Dan bila kita ingin selalu diridloi-Nya maka buatlah selalu orang tua kita ridlo kepada kita.
Jangan sampai kita berbuat zholim atau aniaya kepada orang lain, apalagi kepada kedua orang tua, karena doa orang teraniaya itu terkabul.
Bila kita sebagai orang tua …
Berhati-hatilah pada waktu marah kepada anak, karena kemarahan kita dan ucapan kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan kadang penyesalan adalah ujungnya.
Doa orang tua adalah makbul, bila kita marah kepada Anak, Berdoalah untuk kebaikan anak-anak kita, maafkanlah mereka…..
Semoga kita di karuniai anak keturunan yang shaleh dan shalehah, yang pintar dan kreatif dan menjadi kebanggaan kita dalam kebaikan. Aamiin…

Sumber : Fanpages Ummi Online

Dua Tahun Jokowi-JK, DPR: Menyedihkan, Semua Serba Impor, Bahkan Garam Saja Harus Impor!


Indonesia sejatinya negara kaya dengan sumber daya alam, baik sumber daya energi maupun sumber daya pangan. Namun faktanya, sampai dua tahun pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) ternyata Indonesia masih berstatus negara pengimpor.

Di beberapa sektor pangan, Indonesia hanya target saja mau melakukan swasembada, tapi faktanya tak ada yang tercapai. Bahkan untuk garam saja harus impor. Padahal Indonesia sebagai negara garis pantai terpanjang di dunia.

“Sangat menyedihkan melihat bangsa ini yang masih sangat tergantung terhadap produk impor, padahal pemerintah sudah berjalan dua tahun,” tandas Wakil Ketua Komisi XI DPR, Hafisz Tohir saat dihubungi, Kamis (20/10).

Menurutnya, kondisi Indonesia seperti negara tak berdaya dengan masih maraknya produk impor, sehingga menggerogoti kekuatan fiskal negara.

“Iya bagaimana fiskal mau kuat kalau digerogoti impor terus-menerus. Kalau begitu, ini (impor marak) yang menang hanya pedagang. Sedih kita melihatnya,” cetus politisi PAN ini.

Dia menegaskan, kondisi itu karena masih terjadinya kegagalan dalam hal industrialisasi produk di semua sektor.

“Sehingga semua produk lokal kita tidak kuat bersaing dengan produk impor,” kata Hafisz.

Untuk itu, pemerintahan Jokowi-JK yang sudah berjalan dua tahun ini harus punya kebijakan jitu. Agar bisa memperbaiki daya beli masyarakat dengan cara memberi insentif dan kemudahan usaha serta membuka industri yang berbasiskan kerakyatan.

“Dan yang tak kalah penting, bagaimana bisa menggalakkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) lebih tepat sasaran. Jadi bukan di tataran pedagang saja. Tapi untuk kalangan petani, sehingga sektor pertanian bisa segera di-industrialisasi,” papar Tohir.

Dia menggarisbawahi penataan sektor kehutanan terkait karet dan sawit yang harus dilakukan hilirisasi industri. Selama ini kebijakannya masih amburadul.

“Sehingga, mestinya kita jangan hanya menjadi pedagang getah karet saja atau pedagang minyak sawit saja. Kalau hanya itu saja, sejak zaman penjajahan VOC pun sudah berjalan,” cetus dia. [akt]

Sang Penakluk

Jumat, 14 Oktober 2016


Beberapa hari ini saya tidak sempat menulis karena terlibat di Global Islamic Economy Summit  – GIES 2016 Dubai. Banyak hal-hal menarik dari para penakluk ekonomi dunia, juga dari kalangan akademisi dan birokrasi. Tetapi diantara sekian banyak pembicara yang diundang, inspirasi yang menurut saya paling menarik justru datang dari seorang pembicara yang nyentrik – seorang pemuda berusia 38 tahun – yang bisa saya sebut sebagai seorang yang bener-bener menaklukkan dunia secara harfiah. Mengapa demikian ?

Pemuda ini adalah Omar Samra – penjelajah dunia dari Mesir, yang berhasil menaklukkan puncak-puncak gunung tertinggi di tujuh benua. Tujuh puncak tertinggi tersebut adalah Everest (Nepal ; 8,850 m), Ancocagua (Argentina ; 6,962 m), Mount McKinley (Alaska; 6,195 m); Kilimanjaro (Tanzania; 5,895 m) , Elbrus (Rusia ; 5,642 m) ; Vinson Massif ( Antarctica; 4,897 m) dan Carstensz Pyramid/Puncak Jaya (Indonesia; 4,884 m).

Tidak hanya menaklukkan puncak-puncak tertinggi, Omar juga berhasil menaklukkan dua kutub bumi – yaitu Kutub Selatan dan Kutub Utara bumi. Dan tidak berhenti disini, Omar juga seorang (calon) astronaut yang tinggal menunggu jadwal penerbangan yang sesuai saja.

Lantas inspirasi apa yang bisa dipetik dari penaklukan demi penaklukan yang dilakukan oleh Omar tersebut ? Ini saya sarikan dari apa yang dia sampaikan di podium dan pembicaraan langsung dengan Omar di back stage – tempat kami para pembicara GIES 2016 menunggu giliran bicara.

Pelajaran pertama adalah dari pengalaman Omar mendaki puncak Everest yang tingginya sama dengan tinggi rata-rata penerbagangan pesawat komersial. Saking beratnya penaklukkan Everest ini, perlu waktu perjalanan 65 hari bagi Omar dan team untuk melakukannya.

Juga jangan dibayangkan perjalanannya mudah, ketika mendekati puncak – setiap satu langkah Omar harus beristirahat mengambil nafas sambil memanaskan kembali kakinya. Setiap kali perjalanan terasa begitu berat dan ingin berhenti, dia memotivasi dirinya kembali dengan hanya berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengangkat satu kaki ke depan kaki yang lainnya – begitu seterusnya.

Perjalanan mendaki ke puncak penaklukkan ini juga berlaku sama dalam kehidupan yang lain – untuk penaklukkan di bidang apa saja. Apapun yang kita ingin taklukkan dalam kehidupan kita – bila penaklukkan itu memang berarti – perjalanannya tidak akan mudah.

Rintangannya juga akan datang di setiap langkah yang kita tempuh, maka kita juga harus siap memotivasi diri sendiri agar  tetap semangat untuk bisa mengangkat kaki yang satu ke depan kaki yang lainnya. Hanya dengan maju selangkah demi selangkah inilah kita akan bisa mengatasi rintangan demi rintangan dalam perjalanan penaklukkan kita.

Pelajaran kedua masih dari penaklukkan Everest, tidak semua team bisa mengantar Omar sampai ke puncak. Sebagian besarnya hanya sampai di base-camp pada ketinggian 5,340 m. Team yang mendampinginya sampai ke puncak-pun tidak bisa sampai puncak secara bersamaan, hanya satu orang yang bisa sampai puncak pada hari yang sama – dan dua yang lain baru sampai puncak sepekan berikutnya.

Penaklukkan kita di dunia nyata – di bidang apapun juga demikian, kita tidak bisa sendirian – perlu team untuk mengantarkannya. Sampai di manapun mereka mengantarkan kita, juga apakah bisa sampai puncak pada waktu yang bersamaan ataupun tidak – mereka tetap team kita. Perjalanan menuju puncak memang sepi, tetapi kita tidak bisa sendirian – tidak boleh melupakan siapapun yang terlibat sejak awal perjalanan penaklukkan kita.

Pelajaran ketiga adalah dari perjalanan Omar ke Kutub Utara – ke tempat di mana kompas juga tidak lagi menunjukkan arah utara. Ditambah arah angin dan cuaca yang mudah sekali berubah, menemukan suatu titik di Kutub Utara bukanlah suatu perjalanan yang mudah.

Seringkali terjadi setelah melakukan perjalanan yang begitu berat ke arah titik yang dikira  tujuan , yang terjadi malah sebaliknya – perjalanan itu ternyata malah menjauh dari titik tujuan bukan mendekatinya. Perjalanan yang dengan mudah membuat frustasi ini, hanya bisa disikapi Omar dengan tetap berusaha terbaik untuk terus melakukannya – hingga bener-bener sampai pada tujuannya.

Ini pula yang terjadi pada setiap penaklukkan kita di dunia nyata. Terkadang kita sudah berusaha bekerja sekuat tenaga kearah pencapaian tujuan kita – kita kira mendekat – tetapi tidak jarang hasilnya malah menjauhkan kita dari tujuan semula.

Bahkan tidak jarang ternyata tujuan yang ingin kita taklukkan tersebut hanyalah fatamorgana belaka, ketika kita mengiranya sudah mendekat – ternyata dia malah tidak ada. Maka selain kita harus tetap terus menerus berusaha sekuat tenaga, kita juga harus make sure bahwa tujuan yang ingin kita taklukkan tersebut bukanlah fatamorgana.


Bila kita bisa melakukan tiga hal tersebut di atas yaitu 1) satu langkah demi satu langkah, 2) jangan lupakan team dan 3) berbuat terbaik untuk tujuan yang jelas dan bener-bener ada – insyaAllah kita juga bisa menjadi sang penakluk untuk bidang kita masing-masing. InsyaAllah.

2 Alat Bukti Ini Sudah Cukup Jadikan Ahok Tersangka, Polri Jangan Berkilah


Ribuan umat Islam dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Akbar (Aksi Bersama Rakyat) menggelar unjuk rasa setelah shalat Jumat siang nanti. Mereka akan longmarch dari Masjid Istiqlal ke Bareskrim Mabes Polri, Jakarta.

Dalam aksi tersebut nanti, mereka mengingatkan Kepolisian RI tidak boleh berkilah lagi dalam mengusut secara tuntas kasus penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Pasalnya menurut mereka, pernyataan Ahok yang disampaikan di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 terkait Q.S Al Maidah Ayat 51 sudah memenuhi unsur pidana sesuai alat bukti yang sah yakni video dan permintaan maaf Ahok.

"Lembaga MUI secara resmi telah mengeluarkan pernyataan sikap melalui suratnya, menyatakan Ahok telah menistakan ayat Al Quran, melecehkan ulama, dan perbuatannya telah menimbulkan keresahan dan kegaduhan di masyarakat," tegas Ketua Presidium Akbar, Rizal Ijal, dalam keterangannya.

Dengan adanya lebih dari dua alat bukti tersebut, Ahok sudah selayaknya ditetapkan sebagai tersangka dan ditangkap oleh Kepolisian RI.

Dengan demikian, kata mereka menegaskan, Ahok sudah layak untuk ditetapkan sebagai tersangka. Sesuai KUHAP, hanya cukup dua alat bukti seseorang dapat ditetapkan sebagai tersangka.

"Menuntut institusi Kepolisian untuk menetapkan Ahok sebagai tersangka dan menangkapnya dalam jangka waktu 1 x 24 jam untuk mempertangung jawabkan perbuatannya," tegasnya.

Mereka juga menyerukan seluruh rakyat Indonesia dan seluruh umat Islam bersatu mengadili Ahok jika institusi Kepolisian RI sebagai penegak hukum tidak mampu menegakkan hukum dan keadilan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salah satu Jubir Akbar, Martimus Amin menambahkan, pengunjuk rasa kemungkinan bisa berjumlah 15 ribu orang. Sebab, selain aliansi Akbar, ada juga elemen masyarakat lainnya yang yang dimotori Front Pembela Islam, dengan tema yang sama. 

Baca juga: Trik Jahat Ahok Setelah Minta Maaf

Ngeluh Minta Ganti Rugi Akibat Demo, Ahok DITAMPAR Netizen

Ahok memang sengaja menyulut permusuhan dengan umat Islam. Dikabarkan oleh Kompas, Gubernur DKI Jakarta itu meyakini bahwa para demonstran yang berunjuk rasa tidak akan mau mengganti kerugian akibat rusaknya taman. Sebab, ia menyebut kondisi tersebut sudah berulang kali terjadi.

"Mereka pada mau tanggung jawab enggak? Enggak pernah kan?" ujar Ahok di Balai Kota, Jumat 14 Oktober 2016 malam.

Kondisi taman di median Jalan Medan Selatan, Jakarta Pusat, tepat di depan Balai Kota DKI Jakarta terpantau rusak. Diduga rusaknya taman tersebut akibat terinjak-injak demonstran anti-Ahok yang sebelumnya berunjuk rasa di lokasi tersebut.

Area taman yang rusak mencapai sekitar 10 meter persegi. Sekitar pukul 18.00 WIB, sejumlah petugas dari Dinas

Pertamanan DKI Jakarta tampak membersihkan tanaman yang sudah terinjak-injak.


Salah seorang petugas, Sukria, tampak menyesalkan kondisi tersebut. Sebab, tanaman yang rusak merupakan tanaman yang belum lama tumbuh.

"Kemarin baru selesai kita sulam. Tahunya ada demo lagi. Jadi rusak lagi. Tiap demo memang selalu kayak gini," ujar dia.

Menurut Sukria, tanaman yang rusak rencananya akan diganti dengan tanaman baru.

"Karena ini enggak mungkin lagi ditanam ulang," kata Sukria.

Menanggapi keluhan Ahok tersebut, netizen pun langsung berang. Mereka segera mengumpulkan jejak digital yang berserak di dunia maya dan 'menampar' Ahok dengan foto-foto yang menunjukkan inkonsistensi Ahok.

Beberapa netizen langsung mengunggah tangkapan layar (screen capture) berita media massa.

Akun @fadree misalnya. Ia mengunggah gambar tertulis, "taman rusak seiprit minta pertanggungjawaban, tapi taman rusak semonas ga minta pertanggungjawaban".

Lain lagi akun @Restyies. Ia mengunggah foto rusaknya taman akibat pelantikan Jokowi.

Jadi, sebaiknya Ahok tak perlu terus menerus menebar kebencian kepada umat Islam, karena pada akhirnya, setiap ujaran kebencian itu akan kembali menyerang Ahok.

Kalau Hukum Tidak Adil, maka Rakyat akan Mencari Hukum Sendiri, Hati-hati.!

Rabu, 12 Oktober 2016


Penistaan agama yang dilontarkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menuai tanggapan dari umat Islam seluruh Indonesia, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Umat Islam se-Yogyakarta yang dipimpin Angkatan Muda (AM) Forum Ukhuwwah Islamiyyah (FUI) Yogyakarta gelar aksi bertajuk “Tadzkiroh Akbar Ummat Islam Yogyakarta” di Perempatan Titik 0 Kilometer pada Ahad (9/10).

“Kepada umat Islam yang masih ada kebaikan Islam untuk ikut mengutuk Ahok dengan pernyataan yang sudah berulang kali melukai umat Islam dan atas pelecehannya terhadap surat Al Maidah ayat 51,” kata Amir AM FUI Yogyakarta, Ustadz Umar Said di sela-sela aksi sebagaimana dikutip Jurnal Islam.

Beliau mendesak pemerintah dan aparat untuk memproses pernyataan Ahok, yang telah dilihat oleh banyak kaum Muslimin melalui Youtube. Ahok sebagai petahana Gubernur DKI Jakarta dengan terang menganggap bahwa umat Islam telah dibodohi dengan surat Al Maidah ayat 51.

“Saya mengajak Ummat Islam Yogyakarta untuk ber-Jihad menghadapi orang-orang kafir macam Ahok dan pendukungnya yang telah menghina serta melecehkan Al-Quran terutama surat Al Maidah 51. Ahok harus diproses secara hukum Islam,” tegas Ustadz Umar.

Sementara itu, Pengurus Besar Harokah Islamiyah (PB-HI) Ustadz Sayfulloh Noor Iqbal Musthofa menegaskan, jika saudara Muslim Jakarta dan Betawi meminta Laskar dari Jogja untuk hadir di Jakarta, AM FUI siap untuk berangkat membantu.

Acara ditutup dengan pernyataan sikap AM FUI oleh Ustadz Muhammad Fadhlun Amin, Selaku Koordinator Umum AM FUI, pengasuh MUIB, serta Majelis Tarjih Muhammadiyah, dan HATMI. Acara singkat, padat dan jelas itu sangat menggugah kesadaran Muslim Yogyakarta akan pentingnya menjaga Aqidah.

Keseluruhan aksi itu mengajak umat Muslim se-Yogyakarta untuk menjadi Mujahid seperti halnya di zaman Pangeran Diponegoro dahulu, dalam rangka membantu umat Islam keturunan Fatahillah Jayakarta (Jakarta) serta mengembalikan Betawi (DKI Jakarta) kepada yang lebih berhak mengurus, yaitu kaum Muslimin yang masih mencintai Firman Allah SWT dalam Al-Quran dan Sunnah Rasululloh SAW.

Sumber: antiliberalnews

8 Menit Bicara Di ILC, Ini 8 Kesalahan Nusron Wahid


Meskipun dengan gaya Arogan mengklaim “saya sampaikan ini dengan kebenaran”, ternyata sejak awal bicara di ILC, banyak kesalahan dalam ucapan Nusron Wahid.

8 menit bicara, ternyata ada 8 kesalahan Nusron Wahid. Rata-rata ada satu kesalahan pada setiap menit.

1. Umat Islam Biasa Salah Paham atau Pahamnya Salah


Di awal paparannya, Nusron Wahid mengatakan: “Umat Islam ini memang biasa ramai. Ramainya umat Islam selalu disebabkan oleh dua hal; kalau nggak salah paham ya pahamnya salah”

Benarkah umat Islam biasa ramai dalam konotasi negatif? Dan ramainya karena salah paham atau pahamnya salah? Seakan-akan umat Islam jarang benar. 

Mari kembali membaca sejarah. Sejak zaman Rasulullah, umat Islam membalikkan kondisi zaman dari zaman jahiliyah menuju peradaban yang gemilang. Ketika Eropa masih mengalami masa kegelapan (dark age), umat Islam telah mencapai kemajuan dan kejayaan; mulai dari perekonomian hingga sains.

Di Indonesia, Islam masuk dan menyebar dengan cepat melalui dakwah damai Wali Songo. Bukan dibawa oleh penjajah dan tanpa kekerasan. Lalu ketika ada penjajahan, dengan diiringi takbir, umat Islam-lah yang mengusir penjajah. 

Hingga saat ini, kaum minoritas juga terlindungi oleh umat Islam di Indonesia. Berbeda jauh dengan negeri-negeri yang ketika umat Islam minoritas, lalu terzalimi seperti di Rohingya.

2. Teks apa pun bebas tafsir


Selanjutnya Nusron Wahid mengatakan: “Saya ingin menegaskan di sini, yang namanya teks apapun itu bebas tafsir. Bebas makna. Yang namanya Al Quran yang paling sah untuk menafsirkan, yang paling tahu tentang Al Quran itu sendiri adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Bukan Majelis Ulama Indonesia.”

Teks apa pun bebas tafsir? Lalu yang dimaksud adalah, Al Quran bebas tafsir sehingga siapa pun bebas menafsirkannya karena yang paling tahu tentang Al Quran adalah Allah dan RasulNya?

Justru karena yang paling tahu tentang Al Quran adalah Allah dan RasulNya, maka Al Quran tidak bebas tafsir dan tidak bebas makna. Tetapi tafsirnya harus sesuai dengan firman Allah (Al Quran) dan sabda Rasulullah (hadits). Dan yang paling tahu tentang Al Quran dan hadits adalah para ulama. Bukan sembarang orang. Dan karenanya ada syarat yang berat bagi seseorang (ulama) yang ingin menjadi mufassir Al Quran. 

Tidak lantas dengan alasan bebas tafsir siapapun boleh menafsirkan lalu tidak ada benar dan salah. Sampai-sampai Ibnu Katsir mencantumkan hadits ini di muqaddimah tafsirnya:

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi)

3. MUI harus tabayun dengan memanggil Ahok


Nusron Wahid dengan melotot menyebut MUI harusnya tabayun dengan memanggil Ahok sebelum mengeluarkan sikap resmi. (Baca: MUI Keluarkan Sikap Resmi Soal Ucapan Ahok Terkait Al Maidah 51)

Benarkah setiap non muslim yang melecehkan Islam harus ditanya apa maksud sesungguhnya ketika dia mengucapkan kata-kata itu? Ternyata tidak. Ketika Abu Lahab melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada Rasulullah, Allah tidak memerintahkan Rasulullah memanggilnya untuk tabayun. Namun Allah langsung menurunkan surat Al Lahab.

Ketika orang-orang Yahudi di Madinah berkhianat, mereka juga tidak dipanggil oleh Rasulullah untuk ditanya apakah maksud mereka berkhianat. Karena tentu mereka akan mengelak.

4. Yalunahum yalunahum yalunahum yalunahumNusron Wahid mengatakan: “Untuk membuktikan apa yang saya sampaikan, saya ingin mengutip sebuah hadits Nabi. Nabi pernah mengatakan, khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum yalunahum yalunahum yalunahum.”

Nusron Wahid mengatakan itu dengan maksud menunjukkan bahwa di zaman khalifah Abbasiyah ada gubernur non muslim dan ia mengklaim zaman itu zaman terbaik.

Adakah hadits seperti yang disebutkan Nusron Wahid itu? Yang adalah “khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum” menunjukkan bahwa sebaik-baik masa adalah masa Rasulullah (sahabat), kemudian masa tabi’in dan kemudian masa tabi’ut tabi’in.

5. Gubernur non muslim pada masa Abbasiyah


Nusron Wahid menceritakan bahwa pada masa Abbasiyah, Khalifah ke-16 Al Mu’tadid Billah menunjuk non muslim (Kristen) bernama Umar bin Yusuf menjadi Gubernur di Irak. Dengan contoh ini, Nusron ingin menunjukkan bahwa boleh memilih gubernur non muslim.

“Apakah di waktu itu tidak ada Surat Al Maidah 51? Apakah pada masa itu tidak ada ulama-ulama yang menafsirkan Al Maidah? Mohon maaf, apakah ulama-ulama yang pada masa itu, kalah shalih kalah alim dengan ulama-ulama hari ini?” kata Nusron sambil melotot.

Mestinya, jika Nusron Wahid konsisten dengan hadits yang ia kutip (khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum), cukuplah itu menjadi jawaban. Bukankah Umar bin Khattab pernah menyuruh Abu Musa Al Asy’ari memecat sekretarisnya karena ia Nasrani lalu Umar membaca Surat Al Maidah ayat 51? Lalu kisah pemecatan ini diabadikan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Mana yang lebih baik, masa Umar yang merupakan masa sahabat atau masa daulah Abbasiyah? Jika Nusron Wahid konsisten, jawaban atas pertanyaan ini akan membuatnya malu untuk berteriak-teriak di depan ulama.

6. Syariat Islam dihormati dalam ranah privat


Apakah pernyataan bahwa syariat Islam harus dihormati dalam ranah privat bukan merupakan bagian dari propaganda sekulerisme? Bukankah dalam ranah publik pun syariat Islam juga harus dihormati?

Kalaupun benar syariat Islam harus dihormati (hanya) dalam ranah privat, mengapa Nusron Wahid mempersoalkan orang yang tidak memilih Ahok dengan alasan Surat Al Maidah ayat 51? Bukankah itu privasi orang tersebut?

7. Ayat Al Maidah tidak ada kaitannya dengan politik


Nusron Wahid mengatakan, “Ayat Al Maidah (51) tidak ada kaitannya dengan politik”

Apakah kaitannya dengan ekonomi? He he

8. Al Maidah 51 multi tafsir


Nusron Wahid mengatakan, "Al Maidah 51 multi tafsir"

Cobalah buka tafsir-tafsir yang menjadi rujukan umat Islam? Mulai dari Ibnu Katsir, Ath Thabari, Al Maraghi, hingga Fi Zhilalil Quran dan Tafsir Al Azhar. Di manakah letak multi tafsirnya? [Ibnu K/Tarbiyah.net]



sumber: tarbiyah

Nusron Wahid Antithesis NU


Oleh: Imam Shamsi Ali *) 

Saya cukup terkejut dan sangat terusik dengan sikap Nusron di acara ILC TV One semalam. Baik pada sikap pikirannya maupun sikap bahasa lisan dan tubuh (body language) menunjukkan kerendahan yang sangat. Ketidakmampuan seseorang menyampaikan pemikiran secara elok, walaupun seandainya benar, menunjukkan adanya sesuatu yang salah. Apalagi, ketika pemikiran atau pemahaman itu memang, selain ignorant, arrogant, juga memang "blunder". 

Saya banyak tidak setuju dengan pola pikir kaum liberal. Karena, liberalisme berbeda dengan logika dalam pemikiran. Logika itu sehat dan perlu. Tapi, liberal bisa berarti ketidakinginan terikat dengan batas-batas keagamaan, bahkan yang disetujui sebagai batas fundamental sekalipun. 

Saya sangat logis. Bahkan, menganggap bahwa agama dan iman sekalipun itu memiliki basis logika yang kuat. Tapi, tidak berarti batas-batas atau dalam bahasa agama "huduud" harus diinjak-injak atas nama logika. Karena, selogis apapun pemikiran manusia, niscaya memiliki keterbatasan, bahkan cenderung menjadi perangkap kekeliruan. Oleh karenanya, memang pada akhirnya, logika tetap harus dipergunakan pada batas-batas yang telah ditetap oleh ketetapan langit (wahyu). 

Nusron tidak saja liberal. Tapi karakter yang mengekpresikan liberalisme dia dibangun di atas karakter yang tidak berakhlak. Kata-kata kasar, mimik wajah, mata terbelalak, dan jelas menampakkan emosi yang tidak terkontrol, semuanya menunjukkan siapa Nusron sesungguhnya. 

Sejujurnya, saya tidak terlalu kenal Nusron. Dan saya juga tidak terlalu ingin membuang energi, waktu dan pemikiran untuk membicarakannya. Karena sesungguhnya tidak terlalu bermutu untuk dibahas. Tapi, dalam acara ILC itu, terdapat beberapa hal yang sangat menggelitik, bahkan mengusik intelektualitas, bahkan sensitivitas iman saya. 

Pertama, pernyataan bahwa yang berhak memahami Alquran adalah hanya Allah dan Rasul-Nya. Pernyataan ini sangat paradoks dengan posisi keagamaan Nusron yang selau mengatakan bahwa teks-teks agama itu harus dengan logika. Bahkan yang menentukan kebenaran adalah logika manusia, seperti pada posisi dasar liberalisme. 

Kedua, pernyataan di atas sejatinya bertentangan dengan tujuan dasar Al-Quran untuk dipahami oleh manusia: "inna anzalnaahu Qur'aanan Arabiyan la'allakuk ta'qiluun". Intinya Alquran diturunkan untuk dipahami. Dan kalau hanya Allah dan RasulNya yang paham makna Alquran, untuk apa diturunkan kepada manusia? Apalagi jika memang Alquran itu ditujukan sebagai petunjuk (hudan linnas). Bisakah manusia menjadikannya sebagai manual hidup jika tidak memahaminya? 

Ketiga, pernyataannya tentang pernyataan Ahok bahwa hanya Ahok-lah yang paham. Nusron secara tidak langsung mengatakan semua orang harus menutup telinga dan mata dari sikap dan kata Ahok. Ada dua kemungkinan dalam hal ini. Pertama, boleh jadi karena kebutaan dan ketulian Nusron menghendaki semua manusia buta dan tuli. Sehingga tidak perlu lagi atau berpura-pura tidak tahu lagi apa yang diucapkan oleh Ahok. Kedua, boleh juga karena Nusron sudah menempatkan Ahok pada posisi Tuhan yang firman-Nya absolut dan hanya dia yang paham. 

Keempat, penampilan Yusron dengan mimik wajah yang emosional, kata-kata yang tidak terkontrol, tampaknya memang satu karakter dengan orang yang ingin dimenangkannya. Tampil dalam setting diskusi, apalagi disiarkan secara langsung le seluruh pelosok tanah air melalui televisi nasional, sangatlah tidak pantas dengan emosi yang tidak terkontrol. Biasanya, sikap seperti itu, sekaligus menjadi ukuran kedalaman ilmu dan kematangan kejiwaan seseorang. 

Kelima, mungkin yang paling mengusik adalah sebagai kader NU (semoga benar) sikap Nusron adalah antithesis dari karakater NU yang tradisinya menghormati para ulama. Ketika Nusron berteriak-teriak menunjuk-nunjuk ulama, langsung atau tidak, maka dalam bahasa jalanan itu namanya "kurang ajar". 

Oleh karenanya, semua pihak harus mencari cara agar Nusron ini tidak lagi mengulangi. Perbedaan pendapat oke lah. Saya mendukung adanya perbedaan pendapat, termasuk dalam penafsiran teks-teks agama. Tapi, hendaknya dilakukan pada batas-batas syar'i, dan yang lebih penting dibangun di atas dasar "khuluqi"Wallahu al-Muwaffiq ilaa aqwamit thoriq (penutup ala NU). 

New York, 12 Oktober 2016

*) Presiden Nusantara Foundation & Muslim Foundation of America, Inc.

sumber: Republika Online

Surat Terbuka Ustadz Arifin Ilham Ke Ahok

Jumat, 07 Oktober 2016


Bapak Ahok terhormat..
Kami sudah menyaksikan dan mendengar sikap dan perkataan bapak sebagai gubernur yg tidak lama akan bapak tinggalkan selamanya insyaAllah. Dan itu bukan karena hanya banyak rakyat tidak memilih bapak, tetapi karena sikap bapak yg memang belum pantas menjadi gubernur, bahkan RT pun belum pantas pada negeri yg beradab penuh tata kerama ini.
Bahasa bapak sangat kasar, dan itu bahasa orang orang yg tidak cerdas dan terdidik. Menjadi contoh buruk bagi generasi bangsa mulia ini. Sungguh seorang yg gampang marah menunjukkan "dhoful aqli wa quwwatul hawa" lemahnya akal dan kuatnya nafsu.
Sungguh sikap bapak sangat membahayakan persatuan dan kedamaian bangsa damai beradab ini, bapak sudah menjadi provokator kerusuhan, membuat preseden sangat buruk bagi generasi bangsa ini. Semua sudut dan media mulai semakin menyadari alangkah bahaya sikap arogansi bapak yg intolerensi ini.
Tidak ada belas kasihan pada rakyat jelata yg mestinya menjadi karekter utama pemimpin yg mulia. Pernahkah bapak bayangkan kalau yg digusur itu rumah bapak, orang tua bapak, anak anak bapak...? Lantas dimana hati nurani bapak?
Bapak hanya berpihak kepada para kelompok pemodal, dan demi mereka dan nafsu bapak, bapak menggadaikan kehormatan dan merendahkan diri bapak sendiri.
Sikap arogon bapak membuat umat seagama dg bapak pun tidak menyukai bapak. Teman teman Kristiani saya bilang, "Bukan penganut yg baik".
Kini bapak sudah menghinakan keyaqinan kami. Semakin jelas kebencian bapak pada kami umat Islam. Bahkan bapak juga pernah mencibir keyaqinan bapak sendiri. Bapak sudah melanggar KUHP pasal 156a tentang PENISTAAN AGAMA.
Pilihan kami berdasarkan keyaqinan iman kami adalah haq kami yg dilindungi undang undang negeri kami. Haram bagi kami memilih pemimpin kafir dalam Surah Al Maidah ayat 51 adalah haq kami, keyaqinan kami dan pilihan kami.
"Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin mu sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yg lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yg zhalim" (QS Al Maidah 51).
Sikap dan perkataan bapak menunjuk siapa bapak sebenarnya. Kalau sekarang rating elektabilitas bapak turun dratis juga karena sikap bapak yg arogan dan intoleren. Dan sungguh sejuta hikmah Allah berikan pada kami, kini umat jadi faham sekarang surah Al Maidah ayat 51, dan semakin mengenal siapa bapak sebenarnya.
Dan kini karena sikap kelakuan bapak sendiri, bapak menjadi musuh semua umat beragama, semua etnis, semua suku di negeri yg aman dan damai ini.
Dan sungguh hamba yg beriman yg mencintai Allah dan RasulNya, yg menjadikan Alqur'an dan Sunnah nabiNya sebagai pedoman hidup sangat marah sekali dg hinaan bapak, sekali lagi sangat marah, tetapi kami tetap bersabar sampai batas takdirNya.
Kami tetap menghormati keyaqinan bapak, alangkah tolerennya umat Islam yg mayoritas masih sabar menyaksikan sikat sifat bapak seperti ini, dan haram bagi kami menghina keyaqinan bapak, dan kami diajarkan untuk menghormati perbedaan keyaqinan, bersikap jujur, amanah, berkata santun, penyayang belas kasih terutama pada rakyat jelata, bahkan kami diajarkan untuk mendoakan agar hiadayah Allah berikan untuk bapak.
Allahumma ya Allah kuatkan iman kami, tetapkan kami dalam kesabaran dalam da'wah ini, dan satukan, rapatkan barisan kami, jadikanlah kami umat teladan di negeri yg kami cintai Indonesia ini.
Dari anak bangsa yg merindukan pemimpin yg bertaqwa, berakhlak mulia, amanah, rendah hati, penyayang, teladan dan sangat mencintai rakyat negeri tercinta ini.




Ttd.
Muhammad Arifin Ilham.

Dari FP Beliau

Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Pak Jokowi 'Injak' Bendera Merah Putih?

Kamis, 06 Oktober 2016


Presiden Jokowi melakukan upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober di Lubang Buaya.
Namun yang menjadi sorotan, foto Pak Jokowi tengah berdiri diatas podium yang dihias dengan kain merah putih melambangkan bendera nasional Indonesia. Sehingga terkesan bahwa Pak Jokowi 'menginjak' bendera merah putih.
Foto tersebut menjadi perbincangan netizen, dan menyayangkan peristiwa 'penginjakan' bendera nasional Indonesia tersebut.
Kecintaan itu bisa dibuktikan lewat sikap dan prilaku..

Komentar beberapa netizen

Mardanas Nasar
Alahuakbar itu ko merah putih di injak apa memng sengaja yaa

Arief Tisnamihardja
Astagfirullah... Apa bantahan istana terkait ini ?
Rasyid Siregar
gak mgkn hal sprti itu tdk ada yg tau.. Jelas d depan mata..

Juriah Harahap
Itu mimbar Irup koq merah putih,usut siapa pelakunya.Tapi koq pada diam begitu banyak TNI di TKP.SONTOLOYO !!!!!!

Ashakee Barata I'Hana
Ini panitianya, yg sipil atau TNI, sudah disusupi orang komunis... :@

Silvia
Merah Putih diinjak, pelecehan.

Nur Rahimah
para pejuang demi rela hati meyerahkn jiwa raga harga demi kemerdeka an dn mengangkat sang bendara merah putih ini kok katanya prisiden gak hormat sama bendera merah putih.. jok km itu orng indonesia apa orng china??

Desi Anggraini
Itu bukan bendera, dilihat yang cermat, itu hanya alas agar semarak menyamakan themanya, lihat di putihnya ada renda merah n itu sudah sesuai , kalo merah putih saja wajib kita marah, itu di putihnya juga ada renda merah jadi itu bukan merah putih
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ekspresi Bebas Arowan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger